PENGGUNAAN PHOTOTHERAPY UNIT PADA BAYI HIPERBILIRUBINEMIA
Malihatush Sofyana Devi (P22040123028)
Program Studi Diploma III Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II
Salah satu kondisi klinis
yang sering ditemukan pada bayi baru lahir adalah bayi dengan hiperbilirubin.
Hiperbilirubinemia memiliki presentase yang kecil (5,6 %) sebagai penyebab
kematian neonatal. Kondisi ini mempunyai komplikasi yang dapat mengakibatkan
kecacatan. Hiperbilirubinemia atau jaundice adalah keadaan dimana tingkat
bilirubin dalam darah yang berlebihan, ditandai dengan adanya ikterus, yaitu
perubahan warna kekuningan pada kulit, sklera, dan kuku. Keadaan ini terjadi
karena fungsi organ hati pada bayi baru lahir belum berfungsi sempurna untuk
memecah dan mengeluarkan bilirubin dari tubuh.
Kadar bilirubin tidak
terkonjugasi pada kelahiran cukup bulan dapat mencapai 6-8 mg/dL pada usia 3
hari, setelah itu berangsur turun. Sedangkan pada bayi premature,
hyperbilirubinemia terjadi lebih dini dengan kadar bilirubin yang naik perlahan
tetapi dengan kadar puncak lebih tinggi, yaitu mencapai 10-12 mg/dL pada hari
ke-5 dan dapat naik menjadi >15 mg/dL. Bila kuning terlihat pada bagian
tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada lengan, tungkai, tangan dan
kaki pada hari kedua, maka tergolong sebagai ikterus sangat berat dan
memerlukan terapi secepatnya.
Salah satu cara untuk
menurunkan kadar bilirubin dalam darah adalah dengan memberikan terapi sinar,
yaitu blue light phototerapy. Alat terapi ini menggunakan lampu yang
memancarkan spektrum cahaya biru dengan panjang gelombang berkisar antara
450-490 nm, dengan jarak penyinaran antara lampu dengan bayi pada saat terapi
±30-50 cm.
Kadar bilirubin normal
pada bayi baru lahir umumnya berkisar antara 1-5 mg/dL, sehingga penting untuk
memahami batasan ini untuk deteksi dini hiperbilirubinemia. Bayi prematur
memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi akibat peningkatan kadar bilirubin,
karena organ hati mereka belum sepenuhnya matang. Oleh karena itu, deteksi awal
dan penanganan cepat sangat krusial untuk mencegah kerusakan jangka panjang,
seperti kerusakan otak akibat ensefalopati bilirubin. Selain blue light
therapy, terdapat metode lain yang dapat dipertimbangkan, seperti phototherapy
konvensional yang menggunakan lampu UV, dan prosedur pertukaran transfusi untuk
kasus yang lebih parah. Pemilihan metode terapi harus disesuaikan dengan
kondisi klinis dan respons pasien, sehingga pendekatan yang tepat dapat
memberikan hasil yang optimal.
Pengertian
Phototherapy atau blue
light therapy merupakan perawatan yang digunakan untuk menurunkan kadar
bilirubin yang tinggi pada bayi hyperbilirubinemia. Terdapat dua jenis
phototerapy, yaitu phototherapy konvensional dan phototherapy serat optik.
Phototherapy konvensional menggunakan sumber cahaya ultraviolet seperti UVA
atau UVB untuk mengurangi kadar bilirubin dalam darah bayi. Phototherapy serat
optik merupakan metode dengan menggunakan serat optic untuk menghantarkan
cahaya secara langsung ke area kulit bayi. Phototherapy dengan blue light
menggunakan sinar biru dengan spektrum cahaya 450-490 nm, dengan penyinaran
paling efektif ialah pada spektrum 459 nm.
Phototherapy memberikan
sinar secara langsung pada kulit bayi dalam jangka waktu tertentu. Sinar yang
digunakan adalah sinar dari lampu blue light yang memiliki Panjang gelombang
450-490 nm dengan intensitas 4500 Lux tetapi dalam prakteknya menggunakan lampu
TL atau fluorosence yang memiliki intensitas yang sama.
Untuk terapi pada bayi
yang terkena penyakit kuning atau hyperbilirubin, blue light ini akan mengubah
bilirubin menjadi senyawa yang larut dalam air sehingga dapat dikeluarkan daari
tubuh bayi. Lama bayi menjalani terapi bergantung pada kadar bilirubin dalam
tubuh bayi, biasanya sekitar 2-4 hari. Bila kadar bliriubin 12-15 mg/dL, terapi
dilakukan selama 2-3 hari. Bila kadarnya mencapai 15-20 mg/dL terapi dilakukan
selama 3-4 hari.
Prinsip kerja
phototherapy blue light berfokus pada penggunaan cahaya biru untuk mengubah
bilirubin tidak terkonjugasi dalam darah. Saat cahaya biru dengan panjang
gelombang antara 450-490 nm diterapkan pada kulit bayi, bilirubin di dalam
darah menyerap cahaya tersebut, memicu reaksi fotokimia yang mengubah struktur
molekul bilirubin menjadi lumirubin, bentuk yang lebih larut dalam air. Proses
ini memudahkan hati dan ginjal untuk mengeluarkan bilirubin dari tubuh melalui
urin dan empedu. Dengan berkurangnya kadar bilirubin dalam darah, risiko
komplikasi serius seperti ensefalopati bilirubin dapat diminimalisir. Selama
terapi, pemantauan kadar bilirubin secara berkala penting untuk mengevaluasi
efektivitas pengobatan dan menyesuaikan terapi jika diperlukan. Dengan cara
ini, phototherapy blue light menjadi metode yang efektif dalam mengobati
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.
Cara kerja phototherapy
unit adalah ketika phototherapy mendapat supply tegangan langsung dari PLN
sebesar 220 V. Saat switch ditekan maka PLN dengan timer dan lampu indicator
akan terhubung, sehingga lampu indicator akan menyala dan timer mulai menghitung.
Kontak timer menghubungkan ballast dan hourmeter dengan PLN sehingga blue light
menyala dan hourmeter menghitung. Saat waktu tercapai, timer memindahkan kontak
ke buzzer sehingga blue light dan hourmeter dan buzzer menyala.
Cara pengoperasian blue
light phototherapy:
1.
Hubungkan steker dengan sumber listrik.
2.
Tekan tombol ON, maka secara otomatis
lampu indicator menyala.
3.
Atur setting timer untuk lamanya waktu
penyinaran yang diperlukan.
4.
Tekan tombol START, maka lampu blue light
akan menyala, timer dan hourmeter juga ikut bekerja.
5.
Buzzer akan berbunyi menandakan posisi
bayi harus diubah.
6.
Bila setting waktu telah tercapai secara
otomatis lampu blue light akan mati.
7.
Tekan tombol OFF dan lepas stekker dari
sumber listrik.
Persiapan Proses untuk
terapi:
·
Posisi lampu pesawat harus diletakkan
dalam keadaan datar
·
Atur jarak sinar bayi 40-45 cm.
·
Bayi dalam keadaan telanjang, khusus untuk
bayi laki-laki kelaminnya ditutup.
·
Mata bayi dtutup dengan kain (warna hitam)
agar tidak tembus dengan Cahaya.
·
Waktu penyinaran maksimal 2x24 jam.
·
Alat dapat dipakai lagi setelah istirahat
selama 12 jam.
Persiapan alat:
·
Alat siap digunakan apabila telah diberi
jeda selama 12 jam dari pemakaian sebelumnya.
·
Pastikan bahwa pelindung lampu berada pada
posisinya. Hal ini mencegah cedera papa bayi jjika lampu pecah dan membantu
menepis sinal ultraviolet yang berbahaya.
·
Hangatkan ruangan tempat unit diletakkan,
bila perlu, sehingga suhu dibawah sinar adalah 28-30℃.
·
Nyalakan unit, dan pastikan bahwa semua
tabung fluorosen bekerja.
·
Gunakan seprai putih pada pelbet, tempat
tidur bayi, atau incubator, dan letakkan tirai putih disekitar tempat area
tempat unit diletakkan untuk memantulkan sinar sebanyak mungkin kembali ke
bayi.
Pelaksanaan Terapi:
·
Selama pelaksanaan terapi, posisi bayi
harus diubah-ubah tiap 6 jam sekali.
·
Usahakan suhu pada bayi antara 36-37℃
(dicek setiap 3 jam).
·
Hindari dehidrasi dan perhatikan feses
pada pasien.
Pemeliharaan:
·
Tempatkan alat pada tempat yang aman dari
kebocoran air, tempat yang lembab dan lian-lain yang dapat menimbulkan
kegagalan dan membahayakan keselamatan kerja serta pasien.
·
Jaga kondisi kebershian alat, lakukan
oengecekan dan observasi rutin pada bagian-bagian dari alat yang perlu dapat
pengawasan khusus misalnya mengecek kondisi lampu blue light serta life time
dari lampu tersebut.
·
Ganti tabung fluorosen yang terbakar atau
yang berkedip-kedip. Catat tanggal tabung diganti atau ukur durasi total
penggunaaan tabung tersebut. Ganti tabung setiap 2000 jam penggunaan atau
setelah tiga bulan.
·
Perlu pengecekan komponen pendukung
lainnya, seperti timer, hourmeter serta kestabilan tegangan.
·
Setiap pengoperasian alat selesai
hendaknya dikondisikan dalam keadaan off.
·
Jika terjadi kerusakan pada lampu
hendaknya pemasangan lampu menggunakan sarung tangan agar tidak terbentuk
bayangan pada lampu
Efek samping:
·
Penurunan waktu transit usus, dengan tinja
yang encer dan kehijauan.
·
Penambahan berat badan yang lambat.
·
Ruam pada kulit.
·
Perubahan pada warna urin.
·
Kulit bayi menjadi memerah, memutih atau
kecoklatan karena efek panas dari lampu atau kedinginan akibat telanjang
·
Dehidrasi (kehilangan cairan) sering
terjadi, biasanya dicegah dengan pemberian cairan lebih dari kebutuhannya
melalui infuse atau ASI.
·
Brinze Baby Syndrome (kulit bayi tampak
berwarna perunggu), hal ini terjdai bila penyinaran dilakukan pada kadar
bilirubin langsung tinggi.
Bagus artikellnya
BalasHapusKeren banget
BalasHapusbagus
BalasHapusBagus
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapuskeren
BalasHapuskeren
BalasHapusInformasinya bermanfaat sekali
BalasHapusmantapp devi
BalasHapusIlmu yang bermanfaat
BalasHapusUnikk
BalasHapusterimakasih
BalasHapusKeren dan informatif
BalasHapusJawa merupaka salah satu nama pulau di Indonesia
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKeren ๐ซต
BalasHapusKeren dan sangat membantu
BalasHapuskeren devii๐๐ป
BalasHapussangat membantu
BalasHapussangat informatif
BalasHapusSemangat timoii :)
BalasHapus๐๐ป
BalasHapusKeren
BalasHapussemangat yaa
BalasHapusArtikel cukup informatif
BalasHapusPenjelasan sangat mudah di pahami
BalasHapusinformatif
BalasHapusVery good
BalasHapusSinar biru ini juga tidak boleh dilihat terlalu lama apabila user menggunakan alat ini karena akan menyebabkan pusing dan mata akan terasa sakit/pandangan sedikit kabur. Terima kasih infonya๐๐ป
BalasHapusGood job, artikel yang bagus
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusbagus,sangat membantu
BalasHapusterima kasih jadi menambah wawasan tentang phototherapy
BalasHapusSangat menginspirasi
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmantap
BalasHapusMantab informatif sekali
BalasHapusgood
BalasHapusmenambah wawasan baru,terimakasih
BalasHapusartikel ini membantu saya dalam pembelajaran alata terapi
BalasHapusartikelnya sangat keren ๐๐ป
BalasHapusinfo yang bermanfaat
BalasHapusgood job, terima kasih
BalasHapus